Review Film Minions Dari Awal Hingga Selesai Agar Dapat Ditonton Bersama Keluarga

Review Film Minions Dari Awal Hingga Selesai Agar Dapat Ditonton Bersama Keluarga

“Minions” adalah sebuah film animasi yang dirilis pada tahun 2015. Film ini pixibu.com merupakan spin-off dari franchise “Despicable Me” yang sangat populer. Berikut adalah review film “Minions” dari awal hingga selesai:

Awal: Film dimulai dengan memperkenalkan para Minions, makhluk kecil kuning yang bertugas untuk melayani makhluk jahat terkuat di planet ini. Setelah kegagalan berurutan dalam mencari tuan baru, Minions merasa kehilangan tujuan hidup mereka.

Plot: Ketiga Minions utama, Kevin, Stuart, dan Bob, memutuskan untuk mencari tuan jahat baru untuk Minion. Mereka memulai perjalanan melintasi berbagai tempat, dari Arktik hingga New York City, pada tahun 1960-an. Di perjalanan mereka, mereka bertemu Scarlett Overkill, seorang penjahat wanita yang glamor dan ambisius, yang berjanji akan menjadi tuan mereka.

Pertengahan: Para Minions terlibat dalam berbagai petualangan yang kocak dan menggelitik di sepanjang perjalanan mereka untuk menjadi hamba Scarlett. Mereka menghadapi tantangan dari penjahat lain, bertemu dengan karakter baru, dan menyebabkan kekacauan di mana pun mereka pergi.

Puncak Konflik: Ketika Scarlett Overkill mengirim Minions untuk mencuri mahkota ratu Inggris, mereka tanpa sengaja mengganggu acara publik yang besar. Kecelakaan ini menyebabkan kekacauan besar dan mengungkapkan kepribadian sejati Scarlett, yang ternyata sangat licik dan kejam.

Akhir: Setelah menyadari bahwa Scarlett bukanlah tuan yang mereka cari, para Minions menyelamatkan dunia dari kehancuran dengan mengalahkan Scarlett. Mereka memilih untuk kembali ke Gru, karakter utama dari “Despicable Me”, dan melanjutkan petualangan mereka bersama dengannya.

Kesimpulan: “Minions” adalah film animasi yang penuh dengan humor slapstick, aksi yang menghibur, dan pesan tentang persahabatan dan kesetiaan. Ini adalah film yang sempurna untuk ditonton bersama keluarga karena dapat dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa. Animasi yang cerah, karakter yang lucu, dan cerita yang menghibur membuat “Minions” menjadi film yang menyenangkan untuk dinikmati bersama-sama.

Continue Reading

Ulasan Film Sherlock Holmes: Aksi Seorang Detektif Melawan Penyihir

Film Sherlock Holmes

Bagi kalian yang menyukai film akun vip slot server myanmar atau misteri, tentu kalian udah tahu berkenaan tokoh yang satu ini. Sherlock Holmes merupakan keliru satu tokoh fiktif yang berprofesi sebagai detektif bersama beragam aksinya yang mengesankan. Dan kali ini, saya bakal membicarakan keliru satu film berkenaan tokoh fiktif Sherlock Holmes yang tentu saja tidak boleh kalian lewatkan. Namun, sebelum akan saya membicarakan film berkenaan Sherlock Holmes, apakah kalian udah tahu berkenaan asal-usul tokoh fiktif Sherlock Holmes?

Sherlock Holmes merupakan keliru satu tokoh fiksi yang diciptakan oleh Sir Arthur Conan Doyle sebagai tokoh rekaan yang menjadi tokoh utama didalam dua belas cerpennya yang berjudul Petualangan Sherlock Holmes. Kedua belas seri cerita pendek tersebut lantas secara runtut diterbitkan di Inggris menjadi th. 1892.

Karena jalan ceritanya yang menarik serta aksi tokoh utamanya yang mengesankan, cerita Sherlock Holmes ini lantas diadaptasi menjadi film layar lebar. Ada banyak film Sherlock Holmes yang ditayangkan cocok bersama cerita yang diadaptasi, dan terhadap pembahasan kali ini saya bakal membicarakan keliru satu film dari Sherlock Holmes yang pertama kali dirilis terhadap th. 2009 di Amerika Serikat.

Sinopsis film Sherlock Holmes yang dirilis terhadap 2009 ini menceritakan berkenaan petualangan Sherlock Holmes beserta sahabatnya yakni Dokter John Watson didalam memburu orang-orang jahat, dan didalam film ini yang mereka buru merupakan seorang penyihir jahat yang bernama Lord Henry Blackwood. Berkisah di London terhadap th. 1890, Sherlock Holmes bersama Dokter Watson sukses menangkap Lord Blackwood yang udah laksanakan tindakan keji, yakni membunuh lima orang bersama langkah yang sama. Adapun alasan pembunuhan yang dilaksanakan oleh Blackwood ialah sebagai ritualnya untuk menambah kapabilitas sihirnya. Tiga bulan sesudah penangkapan Blackwood, selanjutnya si penyihir sadis itu pun dijatuhi hukum mati oleh kepolisian Inggris bersama langkah digantung dan dinyatakan udah mati oleh Dokter Watson. Akan tetapi, sesudah moment kematian Blackwood, Irene Adler (mantan kekasih Holmes) berkunjung ke Holmes dan memintanya untuk menemui seorang pria bernama Reordan, dan sesudah gerak-gerik Irene diikuti oleh Holmes, sang detektif pun tahu bahwasanya Irene tengah menjadi pesuruh seseorang dan sang detektif pun tahu bahwasanya Reordan adalah kunci dari segala rancangan Blackwood. Namun, tiga hari lantas makam Blackwood dihancurkan dan Reordan ditemukan tewas di didalam peti mati yang mestinya menjadi daerah peristirahatan Blackwood. Hal itu tentu mengguncangkan Holmes dan Dokter Watson, lebih-lebih ulang saat sang penjaga kuburan menyebutkan bahwa dirinya melihat Blackwood bangkit dari kubur.

Film ini amat menegangkan sekaligus amat menguji logika. Karena didalam film ini diuraikan pula bagaimana Sherlock Holmes memecahkan misteri kematian Blackwood bersama langkah berpikirnya yang unik dan melalui pendekatan sains. Akhir dari film ini tentu amat mengesankan, karena film ini berakhir bersama penuh kejutan. Film ini amat cocok untuk kalian yang menyukai genre film aksi tetapi tetap mempertahankan kelogisan alur ceritanya, lebih-lebih ulang film ini dibintangi oleh aktor papan atas layaknya Robert Downey Jr, Jude Law, Rachel McAdams, dan Mark Strong.

Continue Reading

Review Film Fast X (2023)

Fast X

Salah satu waralaba film terbesar, yaitu Fast & Furious, tetap konsisten berkembang dan kini udah sampai di film kesepuluhnya! Yap, Universal Pictures selanjutnya merilis Fast & Furious 10 atau yang miliki judul resmi Fast X. Film ini rencananya bakal menjadi awal untuk akhir dari kisahnya Dominic Toretto dan keluarganya yang bakal dibagi dalam sebagian film.

Kali ini, Fast X digarap oleh Louis Leterrier, sosok yang termasuk pernah menyutradarai Now You See Me (2013), Clash of the Titans (2010), dan The Incredible Hulk (2008). Film ini dibintangi deretan aktor ternama Hollywood, di antaranya Vin Diesel, Michelle Rodriguez, Jason Momoa, John Cena, Tyrese Gibson, Ludacris, dan aktor lainnya baik yang lama di Fast & Furious maupun yang baru.

Jalan cerita Fast X dibikin miliki koneksi dengan Fast Five (2011). Kamu yang menonton Fast Five pastinya mengerti bahwa Dom dan keluarganya hadapi Hernan Reyes. Nah, anaknya Hernan, yakni Dante Reyes, mampir ke Fast X untuk melaksanakan balas dendam atas kematian ayahnya serta Dom yang termasuk menyita seluruh harta keluarganya yang dulu kerap bermain di slot server kamboja vvip.

Review film Fast X

Ketika nilai kekeluargaan Dom makin lama mengalami pengujian berat

Kekeluargaan Dom sesungguhnya selalu diuji sejak awal Fast & Furious. Namun, Fast X bisa dibilang sebagai ujian terberat bagi Dom dan keluarganya di selama kisah hidupnya di Fast & Furious. Kamu yang ikuti kisahnya Dom sudah pasti mengerti bahwa bagian keluarganya konsisten bertambah. Jumlah bagian keluarganya Dom yang makin lama banyak inilah yang selanjutnya menyusahkan Dom di Fast X.

Dante mengerti bahwa Dom amat tekankan keluarganya dan perihal tersebut diamati sebagai titik lemahnya Dom. Alhasil, Dante membalaskan dendamnya dengan langkah memecah belah keluarganya Dom untuk menguji apakah Dom mampu menyelamatkan seluruh orang yang dia cintai. Seperti sebagian film Fast & Furious sebelumnya, Dom kembali mengaktifkan jiwa superspy atau mata-mata supernya untuk mampu menyelamatkan keluarganya yang dipecah ke berbagai negara berbeda.

Sebelum film ini dirilis, sutradara Leterrier pernah berjanji bahwa elemen balapan jalanan bakal kembali ke Fast X. Memang benar tersedia satu peristiwa yang menunjukkan Dom adu balapan dengan Dante di jalanan Rio de Janeiro. Namun sesudah melihat total film ini, saya enggak sepakat dengan pernyataannya Leterrier karena peristiwa balapan jalanan Dom dan Dante mampu dibilang cuma secuil dan tidak miliki efek besar untuk membuat Fast X terasa seperti kembali ke akarnya.

Nyatanya, Fast X tetap mempertahankan elemen aksi di luar nalar yang selama ini dikeluhkan para pecinta film Fast & Furious terdahulu. Kamu bakal selalu mendapatkan banyak peristiwa kebetulan yang tidak masuk akal selama menyaksikan film ini. Sisi positifnya, peristiwa gila seperti pergi ke luar angkasa cuma dengan mobil, yang ditampilkan pada F9 (2021), untungnya tidak ditemukan kembali di Fast X.

Sadar bahwa Fast X memiliki interaksi cerita dengan Fast Five, sutradara Leterrier terlihat mengerti meminjam sebagian elemen dari Fast Five untuk dibuat kembali di filmnya. Selain adegan flashback, peristiwa saat Dom dan Dante berhadapan sebelum akan adu balapan mengingatkan saya kepada peristiwa Dom berhadapan dengan Luke Hobbs. Momen saat Aimes bekerja sama dengan Dom termasuk memicu saya teringat dengan peristiwa Dom dan Hobbs pertama kali bekerja sama di Fast Five.

Penampilan Jason Momoa amat gila dan menakutkan

Kamu yang sempat mencurigakan kebolehan Jason Momoa dalam memerankan cii-ciri villain bakal amat dibungkam sesudah melihat tampilan sang aktor di Fast X. Di antara seluruh aktor yang tampil di film ini, Momoa menjadi yang paling mencuri perhatian. Momoa mampu memicu Dante menjadi villain yang amat gila dan mengerikan tanpa wajib terlihat menakutkan secara dandanan.

Dengan dandanan yang flamboyan dan perlente, kamu enggak bakal menyangka Dante adalah villain “sakit” yang level gilanya hampir setara dengan Joker. Selama menjalankan penyiksaannya, Dante melakukannya bahkan sambil cengengesan. Selama menonton Fast X, kamu seakan dibuat pesimis dengan nasibnya Dom dalam jauhi kegilaannya Dante. Saya mampu bilang bahwa pemilihan Momoa sebagai Dante adalah ketentuan yang tepat.

Seakan mengukuhkan tema keluarga di Fast & Furious, hampir seluruh cii-ciri baru yang terlihat di Fast X ternyata miliki interaksi keluarga dengan cii-ciri lama Fast & Furious. Kerennya dari Fast & Furious adalah waralaba ini mampu menyatukan banyak aktor Hollywood ternama biarpun filmnya dianggap makin lama tidak masuk akal. Buktinya, Fast X amat bertabur bintang!

Adegan aksi melimpah yang mampu memacu adrenalin

Di luar jalan ceritanya yang tetap banyak menampilkan peristiwa tidak masuk akal, perihal lainnya yang patut diapresiasi dari Fast X adalah adegan aksi nonstopnya yang sudah pasti memicu para pecinta film aksi bakal amat puas. Selain aksi kejar-kejaran, film ini menampilkan lebih banyak ledakan dan pertarungan tangan kosong. Enggak diragukan kembali bahwa Fast X adalah paket aksi yang lengkap.

Aksi lengkap yang disajikan Fast X juga dapat dukungan dengan kualitas CGI yang terlihat mulus. Walau adegan aksinya terlihat amat gila, sutradara Leterrier tidak cuma mengandalkan CGI dalam menampilkan aksinya. Sang sutradara mengaku bahwa dia termasuk menggunakan banyak practical stunt. Enggak heran sebagian aksi gila di Fast X terasa lumayan nyata.

Dari segi scoring, efek audio yang digunakan termasuk terasa tepat dengan peristiwa di hampir selama film. Kamu termasuk mampu mendengar lantunan sebagian lagu hiphop serta musik Latin yang makin lama memeriahkan filmnya. Sayangnya, film ini tampaknya tidak melahirkan soundtrack ikonis seperti “See You Again” atau “Tokyo Drift”.

Fast X menjadi bukti bahwa waralaba Fast & Furious tampaknya sukar untuk kembali ke elemen akar mereka, yakni balapan jalanan. Film ini sesungguhnya menampilkan peristiwa adu balapan antara Dom dan Dante. Namun secara keseluruhan, Dom selalu kembali beraksi seperti “superhero” dalam merawat keutuhan keluarganya dari ancamannya Dante. Bicara soal Dante, Jason Momoa mampu dibilang sebagai MVP di film ini dengan akting gilanya!

Continue Reading

Review Film: Siksa Neraka

siksa neraka

Saya tidak menyadari bagaimana mengawali review Siksa Neraka ini. Yang jelas, aku menjadi menyaksikan film ini sebetulnya bagai disiksa oleh bermacam aspek yang memicu aku menanyakan apa yang sebetulnya aku tonton sepanjang 98 menit yang saya tonton. Selain itu, di sini kami juga akan sedikit membahas tentang permainan judi online yang tersedia di link situs gates of olympus slot

Anggap saja, gerutu aku setelah terlihat bioskop menyaksikan Siksa Neraka ini sebagai konsekuensi ekspektasi yang kelewat tinggi sebagai pembaca versi komiknya sejak kecil.

Lebih dari 20 th. lalu, aku didalam versi bocil selesai membaca komik Siksa Neraka dengan bergidik. Lima th. lantas disaat aku melakukan liputan khusus soal komik siksa neraka pun, aku masih memikirkan betapa serunya andaikata komik legendaris ini jadi drama live action di layar lebar.

Jujur saja, aku telah turunkan ekspektasi disaat proyek film Siksa Neraka diumumkan, bahkan selagi trailer dirilis. Namun marilah mencoba menganggap positif terhadap “film karya anak bangsa” hingga selanjutnya menyaksikan sendiri di layar lebar.

Kacau; ngalor-ngidul; rangkaian cerita yang tak logis; tidak cukup riset; emosi tak tersampaikan ke penonton; hanya modal adegan sadis; dan tak peka terhadap persoalan sosial selagi ini. Sungut-sungut itulah yang terlihat usai aku menyaksikan film Siksa Neraka.

Mari kami bahas perlahan. Saya sebetulnya masih beri tambahan toleransi yang terlampau luas andaikata Lele Laila sebagai penulis dambakan mengembangkan cerita Siksa Neraka dari versi komik yang ditulis MB Rahimsyah ini.

Pengembangan kisah yang ditunaikan Lele Laila dengan segala imajinasinya yang bagai sinetron azab ini masih bisa aku menerima secara konsep, karena sebetulnya didalam versi komik ceritanya begitu sederhana.

Dalam versi komik, Rahimsyah terhadap dekade ’80-an hanya mengisahkan lagi selagi Nabi Muhammad SAW ditunjukkan surga dan neraka dalam moment Isra Mikraj. Rahimsyah pun hanya menarasikan melalui caption yang diperkuat dengan gambar-gambar mengerikan khas komik torture porn.

Tentu saja, kisah yang dinarasikan disangkutpautkan dengan nilai-nilai agama Islam dan bermacam jenis dosa yang biasa ditemukan didalam masyarakat, seperti mencuri, judi, tukang fitnah, korupsi, pezinah, hingga penyuka sesama jenis.

Sehingga disaat Lele mengangkatnya didalam wujud naskah film, pasti pembabakan cerita sebab-akibat terlampau diperlukan. Saya tidak mempermasalahkan rancangan dasar cerita yang ditulis. Hanya saja, aku menjadi eksekusinya kacau.

Kekacauan itu terlihat dari alurnya narasinya yang ikut menyatakan Lele, dan juga Anggy Umbara selaku sutradara, tidak cukup riset didalam melogiskan kisah di luar jangkauan pengalaman manusia fana ini.

Saya sendiri bingung bagaimana ceritanya manusia yang belum dikubur tapi jiwanya telah berada di neraka, dan memicu aku mempertanyakan apakah aku membebaskan rancangan tahapan hidup manusia setelah mati yang dulu aku pelajari semasa sekolah?

Baiklah, tak usah yang loncat sejauh itu. Bagaimana ceritanya ada orang pilih berbasah-basahan menyusuri sungai padahal ada jembatan dan setelahnya pun ada kepentingan manggung di sebuah pusat perbelanjaan?

Dalam dunia nyata, rasanya tak dapat ada yang berkenan pilih baju sebadan basah padahal masih ada kepentingan setelahnya. Sepatu basah saja telah buat kesal, apalagi ini baju sebadan kuyub semua.

Dari sini, aku menjadi penulis tidak cukup riset. Atau, bisa saja ia terpaksa sesuaikan dengan bujet memproses yang lebih dari satu besar telah habis untuk penggunaan CGI demi menampilkan gambaran neraka.

Melihat Siksa Neraka bagai disiksa menyaksikan film 98 menit yang tak menyadari juntrungannya.

Jujur saja, kabar bujet memproses Rp5 miliar untuk film ini sebetulnya tak terbilang ‘raksasa’ terhadap skala industri film Indonesia selagi ini.

Bila sebetulnya benar Siksa Neraka berbujet demikian, sebetulnya memproses masih bisa disiasati dengan menyederhanakan cerita dan memicu film ini fokus terhadap cerita anggota neraka alih-alih bertele-tele di anggota dunia

Saya menjadi kisah anggota dunia yang memakan selagi lebih dari separuh durasi masih bisa banyak dipotong. Toh selain bukan jualan utama, ceritanya terhitung tidak menyentuh, dan penampilan para pemain sama sekali tidak menunjang kualitas ceritanya.

Bahkan menurut saya, harusnya Anggy Umbara bisa memaksimalkan teror kengerian di neraka di luar modal adegan gore dan kesadisan semata. Nilai emosi dan horor dengan mengikutsertakan permainan psikologis bisa disertakan untuk babak ini.

Namun agaknya Anggy lebih sibuk menyatakan bagaimana mata dicolok, lidah dipotong, dan tubuh disetrika, yang mana menurut saya tidak memiliki dampak psikologis signifikan.

Padahal, Anggy bisa belajar dari bagaimana Saw dan film gore lain memicu penontonnya begidik, gelisah, hingga ketakutan dengan adegan di layar.

Hal ini membuat prostetik dan CGI yang telah ‘mati-matian’ dibangun seolah jadi gimik semata. Jadinya, pertunjukan babak neraka didalam film ini cuma sekadar menyeramkan tanpa ada esensi perlu di baliknya.

Selain itu, aku kecewa disaat Anggy Umbara dan Lele Laila pilih menayangkan adegan hukuman time-loop untuk kasus bunuh diri. Terlepas dari persoalan kebebasan berekspresi dan kreativitas, ada hal-hal yang sebetulnya tidak wajib ditunjukkan secara gamblang.

Jangan salah, aku tidak memihak terhadap sensor. Saya pun menampik keberadaan sensor film seperti dulu kala.

Namun mengingat instansi sensor selagi ini hanya sekadar mengelompokkan film berdasarkan usia penonton, selagi bioskop tak bisa diandalkan didalam memilah pemirsa cocok aturan, maka ada banyak anak di bawah usia yang bisa menyaksikan adegan ‘berbahaya’ itu.

Hal itu diperparah dengan fakta masyarakat Indonesia banyak yang tak peduli dapat ketentuan klasifikan film berikut dengan mengajak anak di bawah usia menyaksikan film 17+ ini.

Padahal serangkaian adegan di film ini bisa memicu trauma, terlebih adegan bunuh diri yang bisa saja diikuti anak-anak di jaman depan. Hal peka ini yang dirasa tak dimiliki kreator dalam menggarap Siksa Neraka.

Saya pun menyayangkan pihak studio dan produser yang tidak memiliki kepekaan sosial dapat dampak samping penayangan adegan tersebut.

Studio harusnya memiliki kepekaan lebih dan bukan hanya berpikir soal cuan, bahkan film horor berbujet Rp5 miliar di Indonesia bisa dengan mudah balik modal hanya dari seperempat juta tiket terjual

Bagi aku –seiring perfilman Indonesia yang telah tua untuk ukuran manusia– telah waktunya tiap-tiap pihak didalam dunia perfilman mengedepankan kualitas sinema dan juga dampaknya, dan bukan hanya sekadar melacak cuan dari eksekusi terhitung cerita receh.

Bila tidak, maka cita-cita perfilman Indonesia yang maju dan bermartabat sebetulnya hanya halusinasi semata.

Continue Reading